Awas, 15 Kampung Adat di Indonesia ini Bisa Bikin Kamu Terpikat


Best of Indonesia - Culture - 468 Hits

Siapa yang gak tau sih kalo Indonesia punya ragam kebudayaan adat yang melimpah? Meski udah memasuki era digital, ternyata warisan yang diperoleh dari zaman nenek moyang masih banyak dipertahankan di berbagai kampung adat di Indonesia. Gak cuma keunikan budayanya yang masih sangat ditonjolkan oleh masyarakat setempat, tapi keindahan alam di kampung adat juga menjadi daya pikat yang pastinya bikin kamu penasaran. Supaya liburan kamu makin antimainstream, kamu harus nyobain serunya get lost di tengah kampung-kampung adat di berbagai tempat yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia!

 

1. MERASAKAN TERSELIMUTI AWAN DI KAMPUNG WAE REBO, NTT

Pernah ngebayangin rasanya diselimutin awan? Hal ajaib ini bisa kamu coba saat liburan dengan mengunjungi Kampung Adat Wae Rebo yang terletak di Kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur.

via instagram.com/lukmanthusiast 

via happyfitdiary.com

via instagram.com/nuraulia25 

Gak heran kalau Kampung Adat Wae Rebo mendapat julukan “kampung di atas awan”. Kalo kamu ke Kampung Wae Rebo, kamu akan disambut dengan kabut tipis yang mengelilingi kampung adat yang letaknya berada di tengah perbukitan.

via instagram.com/lellyjeane 

via instagram.com/tius_muanley   

via instagram.com/aavaloki 

Gak cuma pemandangan alamnya aja yang memukau. Saat kamu berkunjung ke Kampung Wae Rebo, kamu akan disuguhi pemandangan rumah adat yang unik, yaitu Mbaru Niang. Bentuknya kerucut dan dibangun secara tradisional dengan atapnya yang terbuat dari ijuk. Nuansa tradisional yang disajikan Mbaru Niang pastinya bagus banget buat dijadikan spot berfoto.

via instagram.com/salamransel  

Nah, yang pengen tau suasana di dalem Mbaru Niang di Kampung Wae Rebo ini kayak gimana, kamu bisa lihat dinding dari bambu yang disusun tinggi membuat siapapun yang ada di dalemnya ngerasa nyaman dan adem. 

via instagram.com/worowidyaningrum 

via instagram.com/alexanderchoxchopa 

Pemandangan pas malemnya gak kalah memukau. View malam hari di Wae Rebo didominasi oleh kabut tipis dan taburan bintang yang bertebaran, dijamin bikin kamu betah menghabiskan liburan di Kampung Adat Wae Rebo.

via instagram.com/puji_suprianto 

Bicara tentang Mbaru Niang, ternyata rumah adat yang dibuat oleh nenek moyang warga di Kampung Wae Rebo ini cuma boleh ada tujuh buah. Tujuannya itu untuk menghormati 7 arah mata angin dari puncak-puncak bukit yang mengelilingi Kampung Wae Rebo. Mereka  percaya  itulah cara buat menghormati roh-roh yang memberikan mereka kesejahteraan.

via instagram.com/lady_putri 

via instagram.com/romeography 

Tertarik mengunjungi Kampung Wae Rebo? Kalau bisa kalian pergi ke Kampung Wae Rebo bukan saat musim hujan, karena perjalanan dari Desa Denge (desa terakhir yang bisa diraih dengan kendaraan, merupakan titik awal trekking) ke Desa Wae Rebo cuma bisa dilalui dengan berjalan kaki selama 5 jam menelusuri hutan dan bukit yang licin. 

via telusurindonesia.com  

Sesampainya di Kampung Wae Rebo, kamu bakal disambut sama warga di sana dan harus mengikuti upacara adat penyambutan. Jadi ketika kamu sampai, kentongan akan dibunyikan sebagai tanda pemberitahuan bahwa lagi ada tamu di Kampung Wae Rebo. Nanti kepala adat akan keluar untuk menyambut kamu dan mengucapkan selamat datang. 

via instagram.com/elisserosanna 

via wisatakomodotours.com   

Ada lagi nih yang menarik dari Kampung Adat Wae Rebo yaitu kopinya yang diolah dari hasil kebun kampung Adat Wae Rebo ini. Mulai dari jenis kopi robusta, arabika, sampai kolombia (Colombian coffee) yang menjadi salah satu kopi terbaik di dunia. Kamu pun bisa langsung merasakan kenikmatan kopi-kopi tersebut langsung saat berlibur di Kampung Wae Rebo.

via phinemo.com

via instagram.com/lady_putri 

Gak hanya meneguk nikmatnya cita rasa kopi khas Kampung Wae Rebo, kamu juga bisa mengambil foto hamparan biji-biji kopi yang dijemur di depan rumah adat Mbaru Niang yang instragamable.

via momotrip.co.id

Proses pengolahan biji kopi di Kampung Wae Rebo dilakukan secara manual oleh penduduk asli. Setelah cukup kering dijemur panasnya matahari, kopi yang sudah dijemur disangrai dengan tungku yang dibakar dengan kayu kemudian di tumbuk menjadi bubuk kopi.

via femina.co.id

Pengolahannya sangat khas karena benar-benar organik dan jauh dari bahan kimia. Inilah yang membuat kopi hasil olahan Kampung Wae Rebo ini terkenal di kalangan pecinta kopi 

via instagram.com/elvimuna

Selain kopi, Kampung Wae Rebo juga menghasilkan kain tenun. Menenun merupakan aktivitas sehari-hari perempuan warga Kampung Wae Rebo di bawah rumah Adat Mbaru Niang. 

via iqbalkautsar.com

Kain tenun khas Kampung Wae Rebo ini ada dua macam, yang pertama kain Songke yang berwarna dasar hitam ditambah motif hias warna biru, kuning, hijau, putih, jingga, dan magenta. Kain Songke atau Songket ini biasa digunakaan saat acara resmi atau sehari-hari. 

via luiskaru.blogspot.co.id

Yang kedua adalah Kain Curak, yaitu kain bermotif garis-garis beraneka warna cerah yang lumayan tebal sehingga bisa untuk penghangat tubuh pada malam hari. 

via hipwee.com

Oh iya untuk menyelesaikan satu buah kain tenun membutuhkan waktu sebulan atau lebih loh, so udah pasti kain hasil tenun wanita-wanita Kampung Wae Rebo sangat cantik dan rapih.

via sesambate.blogspot.co.id

Dengan pesona keindahan alam dan rumah adat, tentu Kampung Adat Wae Rebo di NTT bisa kamu jadikan alternatif tujuan liburanmu. Gak Cuma menambah koleksi foto buat medsos, kamu juga bakal mendapatkan pengalaman yang gak terlupakan dengan mencicipi kelezatan kopi serta menikmati kerajinan tenun khas Kampung Wae Rebo.

via instagram.com/lyladventure 

via instagram.com/irbef_k 

 

2. MENIKMATI HAWA BACK TO NATURE DI KAMPUNG ADAT BADUY, LEBAK, BANTEN

Mau liburan seru ke alam tapi gak mau kejauhan dari Jakarta? Kampung Adat Baduy yang berlokasi di Lebak, Banten merupakan destinasi liburan yang bisa mengabulkan keinginanmu.

via tripsantai.com 

Kampung Adat Baduy ada di Pegunungan Kendeng, Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten. Sebelum masuk wilayah Suku Baduy, kamu bakal ketemu patung di Ciboleger sebagai gerbang utama buat masuk ke dalam perkampungan Baduy. 

via instagram.com/awianu 

Di dalam kampung adat Baduy ini ada dua golongan Suku Baduy, ada Baduy Dalam dan Baduy Luar. Penggolongan itu didasarkan pada perbedaan tentang tataran adat yang berlaku di dalamnya aja, tapi pada dasarnya masyarakat Baduy sendiri cuma menganggap ada satu Baduy.

via wisatabanten.com   

Suku Baduy Luar di Kampung adat Baduy ini sebenarnya udah mulai ‘terkontaminasi’ sama budaya modern, jadi sudah mengenal teknologi seperti alat-alat elektronik. Dari penampilannya pun suku Baduy Luar juga berbeda dengan Suku Baduy Dalam. Mereka memakai pakaian serba hitam atau biru donker yang berarti mereka tidak lagi sesuci Suku Baduy Dalam yang berpakaian serba putih.

via teoope.com 

Kalau Suku Baduy Dalam emang benar-benar sama sekali gak kena pengaruh budaya modern, kehidupannya juga bisa dikatakan sebagai nature yang sesungguhnya karena benar-benar jaga alam banget. Di wilayah Baduy Dalam gak boleh bawa sabun dan apapun yang berbahan kimia, ini larangan yang keras karena mereka mengganggap itu akan mencemari alam. Jelas aja sungai di Kampung Adat Baduy terlihat jernih.

via dolandolen.com 

Suku Baduy di Kampung Adat Baduy mempunyai rumah adat berupa rumah panggung yang masih tradisional. Rumah adat di Kampung Adat Baduy terbuat dari bambu dan atapnya dari daun yang disebut sulah nyanda. Dengan bahan yang diambil dari alam, tentunya berlibur di Kampung Adat Baduy membawamu merasakan nikmatnya back to nature.

via keepo.com  

Ingin melatih pola hidup yang sehat? Liburan ke Kampung Adat Baduy dijamin bikin badan kamu menjadi lebih fit dengan meniru kebiasaan masyarakatnya. Suku Baduy di Kampung adat Baduy ini suka banget berjalan kaki. Mereka lebih senang pergi-pergi dengan gak mengenakan alas kaki. 

via poskotanews.com

via instagram.com/travellovatourid 

Untuk berpindah dari Baduy Dalam ke Baday Luar, kamu harus melewati jembatan. Bukan jembatan besi ya, tapi di Kampung Adat Baduy jembatannya masih terbuat dari bahan alami, yaitu dua akar pohon yang dihubungan tanpa perekat. Gak perlu khawatir, aman kok melintasi jembatan ini. Selain bahannya kuat, ada bambu juga yang bikin kamu gak bakal jatuh.

via instagram.com/adjie.eijda 

via instagram.com/ghassanisagita 

Untuk mengisi liburan dengan merasakan dekatnya hidup dengan alam, kamu bisa mengunjungin Kampung Adat Baduy. Kehidupannya yang serba alam ditambah pemandangannya yang asri cocok banget untuk menenangkan diri dari padatnya kehidupan perkotaan.

via postualang.com 

via instagram.com/anggunpratami 

via instagram.com/lukman_anggara88 

 

3. SIAP-SIAP TERLENA DENGAN KEINDAHAN DESA ADAT BENA DALAM GUNUNG INERIE, FLORES

Buat kamu yang merencanakan liburan ke Flores, jangan lupa untuk masukkin Kampung Adat Bena yang berada di pelukan Gunung Inerie ke dalam list destinasimu. 

via instagram.com/si_larjo 

via instagram.com/_febrian 

via jelajahsumbar.com 

Bukan kampung adat kalo gak ada rumah adat yang berdiri kokoh di sana. Di Kampung Adat Bena, kamu akan menemukan rumah adat yang disebut “Sao”. Bangunan satu ini beralaskan dan berdinding dari bambu. Atap Sao berlapis alang-alang dan jalan di depannya dipenuhi batu-batuan yang kesannya sangat alami.

via astacala.org  

via instagram.com/kupang.news

Rumah Adat di Kampung Bena punya ciri khas yang bikin kamu terpukau. Di bagian teras rumah terlihat ada tanduk kerbau, rahang dan taring babi yang terikat jadi satu. Semakin banyak yang diikat di teras rumah, maka semakin tinggi status sosial sang pemilik rumah itu. Jadi bukan sembarangan pajangan ya.

via instagram.com/tanaradea

Uniknya lagi, dari rumah adat Bena ini adalah dari total 45 unit rumah yang dihuni oleh 9 suku berbeda, masing-masing rumah dari masing-masing suku tersebut dibedakan dari tingkatan rumahnya. Setiap satu suku berada dalam satu tingkat ketinggian. Posisi rumah-rumah adat di Kampung Bena cukup unik karena saling berhadapan. 

via instagram.com/potrettraveler

Bentuk kampung Adat Bena ini memanjang dari utara ke selatan. Pintu masuk hanya ada di bagian utara dan ujung lainnya berada di bagian selatan yang merupakan puncak sekaligus tepi tebing terjal. 

via instagram.com/ndhax77 

via instagram.com/pikniknusantara 

via instagram.com/andhesherwindro 

Saat ke Kampung Adat Bena, wajib banget untuk tantang nyalimu buat befoto di pinggir tebing yang terjal di ujung kampung. Tebing ini jadi salah satu spot foto yang dicari pengunjung. Sambil memacu adrenalin, kamu jadi bisa lebih jelas melihat pemandangan alam yang mengelilingi Kampung Adat Bena.
via instagram.com/shevaland 

via instagram.com/lidwinataruli  

via instagram.com/dedika_marlon 

via instagram.com/iputuady 

Masyarakat Kampung Adat Bena juga punya bahasa adat sendiri loh buat kesehariannya, yaitu bahasa Ngada, bahasa asli daerah Bajawa. Mereka biasanya bekerja sebagai petani dan menanam tanaman seperti cengkeh, pala, kemiri dan kelapa di sekitar kampung mereka yang serba hijau itu. Kamu bisa mendapatkan foto yang aesthetic pas mereka lagi menjemur hasil kebun mereka.

via instagram.com/iqbal_kautsar

Kampung Bena di Flores bisa menjadi destinasi yang kamu pilih buat mengisi liburanmu di Flores. Nuansa alam pegunungan dijamin bikin kamu relax dan nyaman main ke sini.

via otonomi.co.id

via instagram.com/widbby 

via instagram.com/imampurnawan 

 

4. ATAP DARI DAUN NIPAH YANG WAH DI KAMPUNG NAGA, TASIKMALAYA 

Selanjutnya kita beralih ke Pulau Jawa, tepatnya di Desa Neglasari Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat. Di sana juga ada perkampungan yang masih mempertahankan kearifan lokal dari nenek moyangnya, namanya Kampung Naga. 

via instagram.com/semester_alam 

Jangan salah, kamu gak bakal menemukan naga di kampung ini. Di Kampung Naga juga gak ada ornamen-ornamen berbentuk naga. Ternyata, Kampung Naga berasal dari bahasa Sunda “Na Gawir” yang berarti “berada di jurang”. Hal ini karena letak Kampung Naga yang berada pada lereng lembah sungai Ciwulan di bagian utara dan timurnya.  

via krjogja.com 

Rumah adat Kampung Naga berupa panggung dan untuk lantainya dibuat dari bahan bambu dan kayu. Dinding rumah juga terbuat dari bilik atau anyaman bambu dengan anyaman sasag.

via instagram.com/berry_priadi 

via instagram.com/imam_jr18 

via travel.kompas.com 

Menurut kebiasaan lokal, rumah adat Kampung Naga ini harus menghadap ke utara atau selatan yang memanjang ke arah barat dan timur. Selain itu, rumah adat mereka gak boleh dicat seperti rumah-rumah zaman sekarang, kecuali dilapisi kapur atau dimeni, yaitu dicat dasar warna merah untuk menahan getah kayu dan serangan rayap.

via instagram.com/semester_alam 

via instagram.com/berry_priadi 

Atap rumah adat di Kampung Naga juga menarik buat dilirik. Rumah-rumah adat di Kampung Naga ini harus terbuat dari daun nipah, ijuk, atau alang-alang. Selain kedap air, juga dapat menjaga kehangatan rumah saat malam hari, jadi dijamin gak bakal gerah atau kedinginan kalo kamu bermalam di rumah adat Kampun Naga. 

via instagram.com/ezytravel  

via instagram.com/feydaska

Penduduk Kampung Naga bisa memadukan dengan baik antara agama dengan warisan adat dan budaya. Dengan mayoritas penduduknya Muslim, di Kampung Naga ini saat mengumandangkan adzan tidak menggunakan alat pengeras suara, tetapi menggunakan bedug.

via instagram.com/berry_priadi 

Buat kamu yang udah sumpek dengan padatnya jalanan dan ingin melihat sawah terhampar luas serta merasakan hangatnya sambutan penduduk lokal, kamu gak boleh melewatkan kesempatan buat mengunjungi Kampung Naga liburan nanti. Sawah yang hijau dengan rumah adat yang dijamin bakal mengobati stress dan penat kamu. 

via instagram.com/margarittta 

via instagram.com/ririsatriatamatours 

via instagram.com/setiowatibella 

Padi di sawah Kampung Naga juga menjadi sumber penghidupan warga asli sini. Beras hasil panen mereka jemur dan jejerkan di depan rumah. Kalau mereka lagi panen, siap-siap jepret gambar ya, karena pemandangan unik ini cuma bisa kamu temukan di Kampung Naga.

via instagram.com/giepelangi 

via instagram.com/wowtasikmalaya 

via instagram.com/jemaludin.azam 

Warga asli Kampung Naga gak cuma menghasilkan beras dari sawah mereka. Mereka juga pandai membuat kerajinan tangan yang bisa kamu jadikan oleh-oleh untuk orang terkasih di rumah.

via instagram.com/haeriahh 

via instagram.com/haeriahh 

Buat kamu yang ingin rileks dengan pemandangan asri yang menenangkan, gak bakal nyesel menjadikan Kampung Naga sebagai tujuan liburan kamu.

via instagram.com/tphotography_72 

via instagram.com/haeriahh 

via travel.kompas.com 

via instagram.com/febinonggg 

 

5. ATRAKSI SILAT YANG NENDANG DI KAMPUNG ADAT SINDANG BARANG, BOGOR

Gak jauh dari ibukota ternyata masih terdapat kampung adat yang masih melestarikan budayanya. Buat kamu yang ingin liburan dekat tapi tetap seru, bisa coba mampir ke Kampung Adat Sindang Barang di Bogor, Jawa Barat.

via instagram.com/iday.27 

via instagram.com/hernaonly 

via indonesiakaya.com 

Memang sih jarak Kampung Adat Sindang Barang cuma sekitar 5 km dari pusat Kota Bogor, tapi kamu gak bisa naik angkutan umum. Kamu cuma bisa jalan kaki atau naik sepeda motor karena jalan yang kecil dan penuh kelokan ini susah banget buat dilaluin sama mobil.

via hellobogor.com  

Pernah melihat atraksi pencak silat? Di Kampung Adat Sindang Barang ada kegiatan yang memadukan adat dengan olahraga silat, namanya Adu Jaten Parebut Seeng. Kegiatan budaya ini diikuti oleh banyak pendekar dari berbagai perguruan Pencak Silat di Bogor. Masing-masing pasangan nanti akan saling mengadu dan menunjukan jurusnya buat merebut seeng (tempat menanak nasi) yang diikat pada salah satu pasangan itu. 

via sputnikers.blogspot.co.id

Seeng ini dipercaya sebagai lambang kesejahteraan loh jadi semakin banyak seeng, semakin sejahtera hidup pemiliknya. Dulu seeng ini dipakai untuk ritual acara besanan (tunangan), dimana seeng dibawa oleh pendekar dari pihak laki-laki untuk diserahkan kepada pihak perempuan, tetapi penyerahannya harus dengan cara merebutnya.

via cipanasline.com 

Namun untuk sekarang tradisi ini sudah beralih jadi pelestarian budaya asli Kampung Adat Sindang Barang. Atraksi ini tentunya bakal mencuri perhatian kamu saat mampir ke sini. 

via hellobogor.com

via hellobogor.com 

Di Kampung Adat Sindang Barang juga ada rumah adat yang gak kalah unik. Bentuk dari bangunan rumah adat itu dibuat sama dengan yang yang tertulis dalam pantun Bogor tentang Kampung Sindang Barang pada zaman dulu yaitu beratap daun kelapa kering dan berdinding kayu. Rumah adat ini bisa dijadikan background foto yang menarik saat kamu di Kampung Sindang Barang.

via indonesiakaya.com
via instagram.com/bharalfons  

via instagram.com/anastasiapitojo  

via instagram.com/tiketcom 

 Ada juga rumah berukuran kecil tanpa pintu dan cuma ada jendela di bagian atasnya, ini disebut Leuit yang ada di Kampung Adat Sindang Barang, fungsinya itu buat menyimpan hasil panen atau lumbung padi masyarakat Kampung Adat Sindang Barang.

via instagram.com/reginurizal 

via instagram.com/hernaonly 

Gak cuma adatnya, pemandangan sekitar Kampung Adat Sindang Barang juga gak kalah menarik perhatian. Kamu gak bakal nyesel deh buat berkunjung ke Kampung Adat Sindang Barang untuk melihat langsung sambil mempelajari warisan adat Indonesia.  

via indonesiakaya.com  

via instagram.com/fitra.amelia 

Kapan lagi bisa menikmati atraksi lokal sambil disuguhkan pemandangan yang etnik banget tanpa perlu pergi jauh? Cukup melipir ke Bogor dan kamu bisa mendapatkan itu semua di Kampung Adat Sindang Barang!

via instagram.com/dettysuardi 

via instagram.com/andre_nugroho 

via instagram.com/nuruull_fitrianii 

 

6. MENENUN KAIN DAN MERAJUT CINTA DI KAMPUNG ADAT SADE, LOMBOK

Bosen ke pantai mulu tiap liburan ke Lombok? Kampung Adat Sade yang merupakan asalnya adat istiadat Suku Sasak Loteng bisa jadi alternatif lain saat kamu berlibur ke Lombok. Cuma 20 menit kok dari Bandara Internasional Lombok, tepatnya di Desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah kampong. Letak Kampung Sade di pinggir jalan besar, jadi gampang banget buat dicari apalagi dikunjungin.

via jatengpos.co.id

via instagram.com/jazzmumba 

via instagram.com/enchagram 

Rumah-rumah adatnya berjumlah 150 yang terdiri dari satu kepala keluarga di tiap rumahnya. Jumlah penduduknya juga sekitar 700 orang, makanya gak heran kalau Kampung Adat Sade ini memiliki luas 5,5 hektar. Kamu bisa muter-muter sampe puas dengan luasnya Kampung Adat Sade.

via instagram.com/adi__nugroho 

via instagram.com/chairileyink 

Kampung Sade punya mitos unik. Di kampung ini ada yang namanya pohon cinta. Suku Sasak melakukan perjodohan di bawah pohon satu ini. Konon, cintanya abadi apabila dinyatakan di sini. So, kalo mau nembak cewek boleh banget ajak jalan ke Kampung Sade!

via instagram.com/salsasportfolio 

via instagram.com/firezze 

via instagram.com/nz_aldriyan 

Emang sih di Kampung Adat Sade ini udah terpengaruh sama teknologi modern, seperti listrik dan alat komunikasi, tapi mereka masih menjaga lingkungannya yang merupakan lingkungan asli Sasak.  

via daenggassing.com 

via wisatadilombok.com 

Rumah adatnya pun masih sangat asli tradisional dengan tiang dan dindingnya berbahan kayu, atap dari alang-alang dan kuda-kuda penyangganya dibuat tanpa menggunakan paku. 

via instagram.com/wahidramdhanii 

Lantainya juga dibuat dari tanah liat dan warga Kampung Adat Sade ini rutin mengepel lantai tersebut dengan kotoran kerbau selama dua minggu sekali, tujuannya untuk mengendapkan debu dan menghalau binatang seperti nyamuk.

via instagram.com/andramaulana 

via dilombok.com 

via instagram.com/deby.shu 
Bukan cuma rumah adatnya yang mempesona, kerajinan khas Kampung Adat Sade juga bakal bikin kamu terpana. Masyarakat Kampung Adat Sade dikenal dengan keahliannya menenun kain. Sepanjang mata memandang, kamu akan dengan mudah menemukan tenunan khas Kampung Adat Sade.

via wisatadilombok.com 

Ada beragam desain dan warna dari tenunan di Kampung Adat Sade. Pada umumnya motif dan warnanya gak rame ataupun kebanyakan motif, jadi enak dipandang dan dibawa pulang ke rumah buat jadi oleh-oleh.

via blog.parahitatour.com

Keterampilan ini adalah tradisi yang terus diwariskan dan wajib hukumnya bagi perempuan di Kampung Adat Sade karena kalau belum bisa menenun, mereka gaboleh nikah. Pantes aja semua perempuan di sini, baik yang tua maupun yang masih muda pandai menenun.

via instagram.com/wijayanti_arina 

via instagram.com/hanifah_ramadhani 

Kamu bisa sekalian belajar menenun di Kampung Adat Sade loh. Dengan belajar menenun di Desa Sade, nantinya kain tenun yang kamu bawa pulang adalah hasil karyamu sendiri. Jadi, ada cerita di balik kain tenun yang akan kamu kenakan itu.

via instagram.com/grecepanjaitan 

via instagram.com/lombok_gagah 

Buat kamu yang beragama Islam, gak usah khawatir mencari tempat ibadah. Di Kampung Sade ada sebuah musholla. Desainnya pun unik dan cocok untuk dijadikan spot foto.

via instagram.com/hannan_hnn_ 

Puas berkeliling, jangan lupa membawa buah tangan! Kampung Sade dikenal dengan kerajinan tangan yang beraneka ragam. Sepanjang jalan kamu akan dengan mudah menemukan penjual aksesoris dan kain khas Suku Sasak.

via instagram.com/sarahmariettac 

via instagram.com/euissafitrimustika 

via instagram.com/emmoymoy 

 

7. MOTIF YANG BIKIN TERCENGANG DI KAMPUNG ADAT DAYAK PAMPANG, SAMARINDA

Kalimantan juga punya kampung adat yang letaknya di Desa Pampang, Kecamatan Samarinda Utara, Provinsi Kalimantan Timur. Ini dia Kampung Adat Dayak Pampang yang adat istiadatnya pasti bikin kamu melongo kagum.

via instagram.com/rio.sasmito 

via instagram.com/indracikuk14 

Kampung Adat Dayak punya motif yang eyecatching banget. Motif Kampung adat Dayak Pampang yang dipenuhi ornamen-ornamen berwarna merah, kuning, hitam dan putih ini menjadi ciri khas dari Suku Dayak. Warna-warna itu diambil dari warna Burung Enggang yang dianggap sakral bagi Suku Dayak ini. Burung Enggang dipercaya sebagai wujud penjelmaan dari Panglima Burung yang akan membantu Suku Dayak baik dalam sehari-hari maupun ketika perang sehingga Burung Enggang ini tidak boleh diburu dan dimakan. 

via virustraveling.com 

via instagram.com/han_ram 

via instagram.com/miftahkul_munir 

via instagram.com/primamutiara89 

Masyarakat Kampung Adat Dayak Pampang ini rutin banget ngadain pertunjukan tarian adatnya. Kalo kamu mau melihatnya, datanglah ke Kampung Adat Dayak Pampang di hari Minggu, karena biasanya mereka menggelar pertunjukan di hari Minggu jam 14.00 WITA – 15.00 WITA. Dan untuk menonton pertunjukkan tari itu, biasanya pengunjung akan dikenakan biaya sebesar RP. 15.OOO. Dijamin menonton pertunjukan itu akan menjadi 1 jam yang sangat mengagumkan.

via instagram.com/miftahkul_munir  

via KSMTour.com 

via kaltim.prokal.co 
Biasanya pertunjukkan tarian itu digelar di rumah adat yang bernama Lamin Adat Pamung Tawai. Rumah adat ini dibuat dari bahan kayu Ulin yang hampir disetiap dindingnya diukir dan dihias dengan ukiran dayak. Bagian atap rumah adat yang terbuat dari kayu Sirap ini juga diukir pada bagian tengah dan sudut-sudutnya, menarik bukan? 

via instagram.com/luthfiahandayani 

via instagram.com/adieakram24 

via www.tripadvisor.co.id

via makansambiljalan.blogspot.co.id 

Saat berkunjung ke Kampung Adat Dayak Pampang ini, jangan lupa mampir ke tempat jualan manik-manik Suku Dayak. Manik-manik ini bukan cuma sekedar aksesoris loh, tapi juga dipakai buat pelengkap upacara adat, pusaka, dan harta warisan. Cocok banget buat dijadikan kenang-kenangan untuk orang terdekat.

via instagram.com/luthfiahandayani 

via masbowi.wordpress.com

Jangan lewatkan momen liburan ini buat mengunjungi Kampung Dayak Pampang. Seni khas yang nyentrik sekaligus eksotis tentunya bakal berkesan banget buat kamu dan partner liburanmu.

via instagram.com/ayapriyanka 

 

8. WISATA MISTIS NAN EKSOTIS DI TANA TORAJA, SULAWESI SELATAN

Terletak di sekitar Makassar, Sulawesi Selatan, Tana Toraja menjadi salah satu obyek wisata unik yang menyuguhkan tempat wisata yang terkesan sedikit menyeramkan. Terdapat beberapa tradisi atau ritual “mistis” di Toraja yang justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara dan wisatawan lokal. Udah kebayang belum serunya berwisata mistis di Tana Toraja?  

via damniloveindonesia.com

via instagram.com/kitaina.id 

via instagram.com/putri.ariani 

via instagram.com/livefolktoraja 

Masyarakat Toraja mempunyai sebuah tradisi unik yang jarang ditemui di masyarakat lainnya. Menyimpan mayat di dalam goa adalah tradisi unik yang dilestarikan Masyarakat Toraja. 

via instagram.com/bs.wibowo 

via dyod.wordpress.com

via instagram.com/bs.wibowo 

Nah, ini lah makam gantung yang kerap disebut-sebut sebagai daya tarik dari Tana Toraja. Meskipun terkesan mistis dan menyeramkan, tradisi ini masih tetap dijalankan oleh warga setempat lho!

via indonesiakaya.com

via instagram.com/failani_ismail 

via instagram.com/jenniemellisa 

Masih berhubungan dengan jenazah, di Tana Toraja juga ada sebuah ritual atau kebiasaan dalam prosesi pemakaman yang cukup unik sekaligus menyeramkan, yakni ritual penggantian baju jenazah Ma’ Nene. Nyalimu bakal ditantang dengan melihat prosesi ini!

via portalsolata.com

Mayat yang telah disemayamkan bertahun-tahun akan diupacarakan kembali dengan menganti semua pakaian dan mendandani layaknya orang yang hidup. Mayat tersebut kemudian digerakkan layaknya orang berjalan. Kalo kamu penakut, ajak pacar atau temen kamu ya buat bareng-bareng menyaksikan ritual ini di Tana Toraja. 

via jurukunci.net

via jurukunci.net

Gak kalah unik dengan kedua hal di atas, upacara Rambu Solo' juga patut kamu saksikan saat kamu berlibur ke Tana Toraja. Masyarakat Tana Toraja mempercayai bahwa Rambu Solo’ akan menyempurnakan kematian seseorang. Maka dari itu, setiap orang yang meninggal di Tana Toraja pasti akan melewati ritual Rambu Solo’ ini walaupun harus mengeluarkan biaya yang gak sedikit. 

via indonesiakaya.com 

via instagram.com/livefolktoraja 

Untuk mengiringi pelaksanaan upacara pemakaman Rambu Solo, gadis-gadis Tana Toraja menampilkan tarian sebagai bentuk sambutan untuk para tamu yang hadir. Nama tariannya adalah Ma’ Katia’.

via instagram.com/livefolktoraja 

Dalam masyarakat Tana Toraja, upacara pemakaman Rambu Todong merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Nah, ketika upacara adat ini dilangsungkan, ada berbagai atraksi budaya yang dipertontonkan. Salah satunya adalah adu kerbau atau yang dalam bahasa Toraja disebut “Tedong Silaga”.

via paradiso.com 

via instagram.com/livefolktoraja 

via instagram.com/livefolktoraja 

Kamu juga bisa menyaksikan upacara lainnya yang gak kalah berkesan di Tana toraja, seperti upacara adu kaki yang akan menyempurnakan jalan-jalan kamu ke Tana Toraja.

via instagram.com/livefolktoraja 

Bukan asal nendang nih. Tradisi satu ini diadakan sebagai perekat kebersamaan dan keserasian masyarakat Tana Toraja. Kalo kamu penasaran buat ngeliat langsung serunya tradisi yang filosofis ini, dateng aja ke Tana Toraja pas lagi musim panen.

via instagram.com/livefolktoraja 

 

9. RITUAL TANGKEP CACING YANG GAK BIKIN PARNO DI DESA ADAT RATENGGARO, SUMBA

Beralih ke Nusa Tenggara Timur, terdapat sebuah desa terpencil yang memiliki keunikan budaya tersendiri yaitu Desa Ratenggaro yang berada di Sumba.

via itchcreature.com

via instagram.com/windykalipatera 

via instagram.com/miss_lilid 

Agak butuh perjuangan buat mencapai Desa Adat Ratenggaro mengingat belum tersedianya akomodasi umum untuk mencapai desa ini. Kalo kamu ke Desa Adat Ratenggaro kamu harus menyewa kendaraan terlebih dahulu dari Tambolaka yang berjarak sekitar 56 km ke lokasi Desa Ratenggaro. Meski harus menempuh perjalanan ke sana yang memakan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam, sesampainya di sana kamu akan disuguhi view yang bisa bikin mulut kamu melongo kagum!

via itchcreature.com

via indonesiakaya.com

Ketika memasuki kawasan Desa Adat Ratenggaro, kamu akan merasakan sensasi kembali ke jaman megalithikum sekitar 4.500 tahun yang lalu di mana masih terdapat kuburan batu tua di sekitar perkampungan.

via instagram.com/bintangjelajah 

Ratenggaro sendiri memiliki arti yaitu ‘Rate’ yang berarti kuburan, sedangkan ‘Garo’ yang artinya orang-orang Garo. Ini terkait dengan kisah magis pada zaman dulu leluhur di mana warga Ratenggaro menarik batu besar dan menumpuknya menjadi mirip sebuah meja atau altar untuk digunakan sebagai kubur. Terdapat 304 buah kubur batu, dan 3 di antaranya berbentuk unik dan terletak di pinggiran laut. 

via instagram.com/elmy.k 

Kampung adat ini juga memiliki keunikan pada rumah adatnya (Uma Kelada) yang memiliki ciri khas menara berbahan dasar jerami yang menjulang tinggi mencapai 15 meter. Semakin tinggi atap, maka status sosial pemilik rumah tersebut makin tinggi.

via instagram.com/akhmadarifin_ 

via mbangundeso.com 

Ada lagi nih keunikan Desa Ratenggaro yang wajib kamu coba, yaitu Festival Pasola. Festival ini menguji keberanian pria Sumba dengan mengharuskan mereka menunggang kuda dan saling berperang memakai tombak hingga berdarah-darah. Kedengarannya serem sih, tapi festival yang meriah ini wajib banget kamu tonton saat kamu liburan ke Desa Ratenggaro.

via instagram.com/ataplapuk 

via instagram.com/ataplapuk 

via sumbatour.com 

Atraksi Pasola yang mendebarkan merupakan rangkaian adat penganut agama asli Sumba, yaitu Marapu. Pasola telah menjadi atraksi wisata sekaligus ikon budaya Pulau Sumba dimana festival ini biasanya diawali dengan upacara Bau Nyale, yaitu ritual mencari cacing laut sebagai pembuka berkah musim panen.

via kratonpedia.com 

via instagram.com/fakhrurrizkiii 

Festival Pasola saat ini sudah dinobatkan menjadi salah satu atraksi budaya terpopuler (Most Popular Cultural Atraction) anugerah Pesona Indonesia 2016. Tanggalnya pun tidak mudah ditentukan karena harus melalui proses perhitungan secara adat oleh para RATO (Tetua) Adat lho! 

Photo by Didik Hariadi Mahsyar via facebook.com/notes/pulau-lombok/bau-nyale-legenda-putri-mandalika/1012965618747251/ 

Festival adat ini biasanya dilakukan pada saat bulan purnama. Para rato biasanya memprediksi bahwa nyale (sejenis cacing) akan keluar pada pagi hari setelah hari mulai terang. 

via instagram.com/bobby_budiman 

Usai nyale diambil maka hewan tersebut terlebih dahulu dibuktikan kebenarannya melalui bentuk serta warna. Bila nyale gemuk dan sehat maka disinyalir panen akan berhasil, sebaliknya, apabila nyale kurus dan rapuh, masyarakat setempat percaya bahwa ini adalah tanda malapetaka.

via instagram.com/harmonilombok 

Beragam banget aktivitas yang bisa kamu lakuin di Desa Ratenggaro. Dari naik kuda, lihat kubur batu sampai rame-rame berburu cacing di tengah kelap kelip binar pantai bisa kamu nikmati selama menghabiskan waktu di Desa Ratenggaro, Sumba. Jangan lupa berfoto depan rumah adat ya sebagai bukti udah main ke sini.

via instagram.com/novrasumbayak 

via instagram.com/argandia 

 

10. DISAMBUT TANDUK DI DEPAN RUMAH KAMPUNG ADAT TARUNG, SUMBA

Kawasan wisata yang satu ini berada tepat di tengah Kota Wakaikabubak, Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Kampung Tarung memiliki keunikan tersendiri karena masih mempertahankan adat istiadat, yaitu tinggal di bangunan asli dengan bentuk dan fungsi yang masih tradisional.

via instagram.com/andriendru 

via instagram.com/marischakaprue 

via instagram.com/maximindonesia 

Jangan kaget kalo kamu menemukan tanduk berjejer di depan rumah adat Kampung Tarung. Tanduk kerbau yang terpasang ini menjadi simbol kekayaan dan kemakmuran keluarga yang menempati rumah tersebut. Semakin banyak dan besar tanduk yang ada, maka bisa dikatakan semakin banyak kekayaannya. Jelas prestise banget karena satu kepala kerbau bisa bernilai puluhan juta rupiah!

via travel.kompas.com

Belum lagi dengan makam yang dibangun pada ruang terbuka yang dapat kamu temukan selama menetap di Kampung Tarung. Hawa mistis yang unik bisa kamu rasakan saat melihat bangunan yang satu ini.  

via instagram.com/arifgugun 

via instagram.com/soutihon 

Makam terbuka ini disebut “Natara Katoda” yang menjadi batu yang dikeramatkan oleh masyarakat sekitar dan tidak boleh ada yang menyentuhnya. Konon, makam ini dulunya dijadikan tempat untuk memenggal kepala musuh saat perang. Terdapat ornamen yang berasal dari rahang babi juga tanduk kerbau yang terpasang pada makam tersebut. Wah, udah bekas tempat pemenggalan manusia, ditambah ornamen yang “garang” kayak rahang babi dan tanduk kerbau, jadi bikin semakin tambah ngeri ya? Hiii. 

via instagram.com/adistiyar 

via oscarmeiffi.blogspot.com 

via instagram.com/eviindrawanto 

Warga Kampung Tarung menganut kepercayaan yang disebut Merapu. Bagi penganut Merapu ada nih upacara yang lazim dilakukan, namanya Wulla Poddu. Tradisi satu ini cukup unik, karena pada bulan Oktober warga dilarang mengadakan pesta, pemakaman, pembangunan rumah adat, ataupun pernikahan. Diadakan tarian sebagai simbol dari upacara ini.

via instagram.com/mujisrv 

via instagram.com/agushong 

Selain masih menjaga adat istiadat melalui bangunan rumah yang lengkap dengan ornamen tanduk kerbau yang keliatan authenctic banget serta upacara adat yang unik, penduduk Kampung Tarung juga masih ngejaga adat istiadat melalui pakaian dan kain tenun nya yang khas.

via instagram.com/cynthiaagustina

Eits, gak cuma bisa ikut menenun bareng warga asli. Di Kampung Tarung, kamu juga bisa loh bergaya dengan pakaian adat khas Sumba.

via instagram.com/yulisdiana 

via instagram.com/pitaaprilia 

via instagram.com/rabeccatjinkar 

Jadi, untuk kamu yang menyukai keindahan kampung yang masih kental suasana adatnya, maka Kampung Tarung merupakan destinasi yang tepat untuk mengisi waktu liburmu. Kamu akan disuguhi dengan keindahan yang bukan hanya ke-authentic-annya tapi juga keindahan seni yang pastinya bikin kamu betah menetap di Kampung Tarung!

via instagram.com/andriendru 

via instagram.com/indonesiadotid 

via instagram.com/rosmeryhutajulu 

 

11. TENGKORAK YANG WANGINYA BIKIN PENASARAN DI DESA TRUNYAN, BALI

Selain terkenal dengan pantai-pantainya yang menawan, ternyata pulau dewata Bali juga punya destinasi unik sekaligus membuat bulu kuduk bergidik dan tentunya bikin kamu penasaran. Mau buktikan? Datanglah ke Desa Truyan di Bali, yang tepatnya berada di daerah Kintamani. 

via pegipegi.com

via instagram.com/kittentramp 

via instagram.com/anggra_damayanti 

Coba bayangkan, di Desa Trunyan Bali ini banyak tengkorak ‘bertebaran’ di atas tanah. Iya, ini bukan setting film bajak laut kok. Di desa ini, jenazah yang telah meninggal dibiarkan saja tergeletak di atas tanah dan hanya diberikan pagar bambu dan sesajen disamping jenazah tersebut. Hal yang ngeri tapi unik seperti ini dapat kamu temukan dengan mudah di Desa Trunyan.

via instagram.com/kadekbalitourservice 

via yudivika.blogspot.co.id 

via okezone.com

Namun gak sedikit pun bau bangkai tercium. Kok bisa ya? Di sinilah letak keunikannya dan bisa dibilang ini satu-satunya lho di Indonesia. Rahasia mengapa jenazah-jenazah disini gak berbau busuk namun justu wangi adalah kehadiran pohon raksasa bernama Trunyan yang mampu menetralisir bau busuk mayat dan konon kabarnya pohon ini hanya tumbuh di daerah ini saja!

via travel.kompas.com

Kalian penasaran dan ingin mengunjungi Desa Trunyan? Tenang aja! Untuk mencapai desa ini tidak lah sulit. Kita bisa menempuh perjalanan darat dari Denpasar selama +/- 8 jam. Karena desa ini terletak di sekitar Danau Batur, kita juga bisa melalui jalur danau dengan waktu tempuh sekitar 15-20 menit saja. Dengan menyewa speed boat seharga Rp700.000 untuk pulang-balik, kita juga mendapatkan pelayanan pemandu wisata lokal yang siap mengatar kita ke lokasi tujuan.

via instagram.com/travelone.bali 

via instagram.com/wulan_afifah 

via theatmojo.com

Di Desa Trunyan, gak hanya hawa mistis yang bisa kamu temui. Kamu bisa rileksasi dengan memandangi pemandangan hijau yang didominasi hutan di tebing serta rumah adat dan pura Bali yang berjejer di Desa Trunyan.

via instagram.com/ardiaap 

Buat kamu yang haus akan ketenangan, mungkin Desa Trunyan adalah tempat yang tepat buat kamu berlibur. Kamu dapat dengan mudah menemukan padang rerumputan yang sepinya bikin kamu merasa damai.

via instagram.com/billyjehezkiel 

via instagram.com/wahego 

Selain pemandangan rerumputan, pemandangan Danau Batur yang mempesona dari Desa Trunyan juga bisa bikin kamu terbuai.

via instagram.com/viaaurelia03 

via instagram.com/melatiayumi 

Buat kamu yang belum pernah mencoba sisi lain dari Bali, ada baiknya kamu kupas rasa penasaranmu dengan mencantumkan Desa Trunyan di to-visit list liburan kamu! Kapan lagi menikmati view yang memanjakan ditambah dengan sentuhan mistis?

via instagram.com/yandhie_aza 

 

12. MENELUSURI JEJAK TATO TERTUA DI DUNIA DI DESA ADAT MENTAWAI, SUMATERA BARAT

Pecinta surfing pasti udah paham kalo Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat adalah surganya bagi penunggang ombak. Tapi tau gak kamu kalo di balik pantainya yang menawan, ada kampung adat yang masih melestarikan budaya nenek moyangnya?

via instagram.com/indtg 

via instagram.com/mav1000 

Ini dia Suku Mentawai. Layaknya suku di pedalaman, pakaian adat pria maupun wanita masih sangat terbuka dan bahannya dari dedaunan. Ornamen yang mereka kenakan juga masih memanfaatkan alam, contohnya gelang manik-manik yang mereka buat dari biji-bijian.

via instagram.com/barrykusuma 

via instagram.com/nadya_dita 

Satu lagi yang menjadi ciri khas ornamen Mentawai adalah tato. Siapa sangka ternyata pulau ini memiliki tradisi tato tertua di dunia. Sebuah penelitian pernah mengungkap, tato yang ada di suku Mentawai lebih tua dari yang ada di Mesir. Bagi masyarakat suku Mentawai, ritual mentato merupakan sebuah tradisi dimana setiap anggota keluarga menggunakan tato sebagai identitas masing-masing. Gak heran kalo di Mentawai kamu bakal ketemu banyak orang yang memiliki tato di tubuhnya!

via indoscenery.com 

Masyarakat Suku Mentawai juga menggunakan tato sebagai lambang keseimbangan dengan alam. Mulai dari ujung kepala, badan, hingga kaki, tato mereka berbentuk hewan, batu, ataupun tumbuhan. Dibuatnya pun dengan bahan alami seperti kayu karai yang diruncingkan dan pewarna daun pisang dicampur arang tempurung kelapa

via instagram.com/surfuncrowded 

Alam dan Suku Mentawai emang gak bisa dipisahin. Belum cukup dengan mentato bentuk hewan di tubuh, Suku Mentawai juga punya tradisi lain yang mendekatkan diri dengan alam, yaitu tarian Turuk Laggai yang menirukan gerak-gerik hewan.

via instagram.com/imronsatya 

Tarian satu ini ternyata berfungsi sebagai ritual pengobatan. Turuk Laggai merupakan prosesi agar roh orang yang sedang sakit terhibur dan gak meninggalkan tubuhnya. Agak serem juga ya.

via instagram.com/robbiesuharlim 

Meski masih berbentuk hutan, Suku Mentawai punya keahlian dalam membangun tempat tinggal. Rumah adat mereka disebut uma, bentuknya dibuat tinggi mirip rumah panggung. Bahan dasarnya sama seperti rumah adat pada umumnya, yaitu rumbai daun kering. Satu uma yang besar ditempati oleh satu marga Suku Mentawai.

via instagram.com/bmbgkrn 

via instagram.com/dionagam 

Buat kamu yang udah gak sabar ngerasain berinteraksi dengan Suku Mentawai, gak perlu pusing soal akomodasi. Kalo kamu ingin berhemat serta cukup pede untuk berakrab ria dengan penduduk asli, kamu bisa tinggal homestay di uma yang ada di pulau ini. Tapi kalo ingin lebih private, ada juga pilihan penginapan mulai dari losmen yang berkisar 250 ribuan/malam hingga resort dengan harga mulai 1 jutaan yang bisa disesuaikan dengan budget kamu. 

via instagram.com/duval.irvan 

Butuh perjuangan sedikit supaya bisa menikmati indahnya panorama Desa Mentawai. Dari Kota Padang, perjalanan bisa dilanjutkan menggunakan kapal. Untuk akses pelayaran, jadwalnya hanya 2 kali dalam seminggu, yakni pada Kamis malam dengan kapal Simasin dan Minggu malam dengan kapal Sumber Rejeki Baru. Tarifnya sendiri adalah Rp105.000 hingga Rp125.000. Perjalanan kapal ini menuju ke Tuapejat di Pulau Sipora. Sesampainya disana, perjalanan bisa dilanjutkan dengan menggunakan kapal ke Muara Siberut. Perjalanan ini membutuhkan waktu 3 – 4 jam perjalanan. Agak rumit, tapi jelas worth it.

via instagram.com/imronsatya 

 

13. BERBAGI SIRIH DENGAN WARGA ASLI DI DESA BOTI, TIMOR

Desa Boti adalah sebuah desa terpencil yang terletak di tengah pegunungan Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

via tourism.nttprov.go.id

Bagi masyarakat modern di kota-kota besar di belahan dunia manapun, yang merasa bosan dengan kehidupan yang serba mewah, berkemas dan berliburlah ke Desa Boti dan nikmati keramahan masyarakat suku Boti yang masih hidup serba alamiah.

via instagram.com/mikaelaclarissa 

Masyarakat Boti sangat bersahaja yang dijamin bikin kamu adem luar dalem. Mereka hanya mengenakan pakaian yang mereka tenun dari benang katun yang mereka pintal sendiri.

via detiktravel.com 

Selain itu, untuk makan dan minum sehari-hari pun, mereka masih menggunakan tempurung kelapa sebagai pengganti piring, sendok, dan gelas. Di Desa Adat Boti kamu akan merasakan sensasi makan dengan suguhan perabotan yang masih sangat fresh from nature.

via detiktravel.com 

Ketika ingin mengunjungi Desa Boti, jangan lupa membawa sirih dan pinang untuk memperlancar komunikasi dengan masyarakat setempat yang hanya mengenal bahasa Dawan, bahasa asli suku Boti. Jangan kaget liat mulut warga asli merah-merah karena bukan lagi berdarah, tapi lagi ngunyah potongan sirih.

via instagram.com/1000_meter 

Suku Boti percaya bahwa di setiap tempat di alam terbuka seperti pohon besar, gunung atau batu besar, sungai dan kampung ada penjaga atau penunggu. Oleh sebab itu, terdapat upacara yang dilakukan suku Boti untuk melindungi sang ibu yang tengah hamil dan meramal jenis kelamin si jabang bayi, karena konon ibu hamil rentan diganggu oleh penunggu-penunggu tersebut. Ta Pe Fenu sebutan bagi upacara tersebut.

via artikel-yunik.blogspot.co.id

Tempat tinggal Suku boti berbahan ijuk dan berbentuk bulat, makanya gak aneh kalo disebut Rumah Bulat. Kalo masuk kamu harus menunduk ya. Bukan cuma supaya gak nabrak atapnya, tapi ini merupakan salah satu cara penghormatan tamu kepada Suku Boti.

via instagram.com/aloysius_suryawan 

Untuk bisa sampai ke Desa Adat Boti, kita harus menempuh jalan yang berliku-liku, naik turun bukit kapur. Hanya setengah perjalanan saja, kita bisa nikmati jalanan beraspal yang sudah berlubang-lubang. Selebihnya, jalanan berbatu terjal dan jurang dalam di sisi kiri dan kanan. Berhubung view nya instagenic, pegel sedikit kelihatannya bukan masalah. 

via detik.com 

Jika ingin menggunakan transportasi umum, maka ambillah bus jurusan Kupang-Soe dengan ongkos sekitar Rp 20.000 dan lanjutkan dengan ojek motor ke arah Desa Boti dengan ongkos sekitar Rp 50.000. Tapi, jika ingin lebih nyaman dalam perjalanan, maka kita dapat menyewa mobil dari Kupang. Sesampainya di Desa Boti, siap-siap terpukau ya.

via instagram.com/monicanoeva 

 

14. TRADISI HINDU YANG LESTARI DI DESA TANIMBAR KEI, MALUKU TENGGARA

Beralih ke bagian timur Indonesia, di Maluku juga ada kampung adat yang patut kamu kunjungi. Ini dia Desa Tanimbar Kei di Maluku Tenggara.

via instagram.com/lingsyawang 

via pasiarkei.wordpress.com

Jarak Desa Tanimbar Kei kira-kira 51 kilometer dari kota Langgur, ibukota dari kabupaten Maluku Tenggara, Untuk sampai ke Desa Tanimbar Kei, kamu bisa berangkat dari kota kecamatan Debut dan menyewa perahu nelayan lokal berhubung gak ada pelayaran komersial ke pulau ini. Perjalanan sekitar 4 jam bisa kamu manfaatkan untuk melihat keindahan laut di Maluku.

via investigasi.tempo.co

Desa Tanimbar Kei terbagi dua, ada yang Kampung Atas atau Ohoratan dak Kampung Bawah. Selama di Tanimbar Kei, kamu bisa bermalam di rumah warga asli yang berada di Kampung Atas. 

via investigasi.tempo.co

Rumah mereka berbentuk rumah panggung yang terbuat dari kayu dan beratap sagu. Bawah rumah dimanfaatkan untuk beternak, bisa babi, ayam, maupun kambing. Tapi kalo ingin lebih nyaman, di sini juga ada penginapan yang harganya berkisar 200-500 ribu per malamnya.

via instagram.com/rinat_ds 

Belum pas kalo belum menikmati tradisi khas Desa Tanimbar Kei. Ada yang dikenal dengan Upacara Tradisional Tate’e untuk memohon kepada Tuhan dan leluhur agar memperoleh panen darat dan laut yang baik setiap tahunnya.

via peradahmaluku.blogspot.co.id

Upacara Tate’e ini kental dengan ajaran Hindu, mengingat di desa adat ini warga aslinya beragama Hindu, gak seperti mayoritas penduduk Maluku yang menganut agama Kristen. Ritualnya pun gak jauh beda dengan yang biasa ditemukan di Bali, seperti sesajen menggunakan sirih, daun pinang, tembakau, atau kopi untuk persembahan kepada Leluhur.

via peradahmaluku.blogspot.co.id

Waktu paling tepat untuk mengunjungi Desa Adat Tanimbar Kei adalah bulan April-Mei atau Oktober-November. Bulan-bulan tersebut diperkirakan waktu terbaik karena cuaca laut yang mendukung.

via pasiarkei.files.wordpress.com 

via 5power.blogspot.co.id

Kalo kamu ke Desa Tanimbar Kei, pastikan kamu mengunjungi Goa Hawang. Bersiaplah untuk terpukau dengan keindahan Goa Hawang beserta birunya air yang berkilau saat diterpa sinar matahari.

via ketahui.com

via instagram.com/ilhamarch 

Tidak hanya itu, di sekitar Desa Tanimbar Kei ini juga terdapat pantai pasir putih yang pasirnya sehalus bedak serta airnya yang bergradasi dari biru hingga toska, Pantai Madweer namanya. 

via ohelterskelter.com 

via bratahungan.blogspot.co.id 

via pinterest.com

 

15. DESA PENGLIPURAN DI BALI FIX BAKAL JADI PELIPUR LARA KAMU YANG LAGI PATAH HATI

Desa Penglipuran merupakan salah satu desa yang dijadikan desa wisata di Kabupaten Bangli. Kalo kamu naik mobil dari Denpasar, kira-kira dengan memakan waktu 2-3 jam kamu bisa sampe di destinasi liburan kamu untuk berbenah hati.

via instagram.com/erwinwijay4 

via kompasiana.com/delianasetia

via instagram.com/tryaguss_ 

via instagram.com/gitasuwitraputri 

Desa ini, merupakan salah satu kawasan pedesaan di Bali yang memiliki tatanan serta struktur desa tradisional yang teratur & rapi dan menjadi ciri khas dari desa ini. Ngeliatnya bikin adem, dijamin kamu yang lagi patah hati gak akan tuh sedih-sedihan lagi!

via lifestyle.liputan6.com

Ciri khas yang menonjol dari Desa Penglipuran adalah arsitektur bagian depan rumah warganya yang semuanya seragam (serupa tapi tak sama). Desa Penglipuran tersusun sedemikian rapinya yang mana daerah utamanya terletak lebih tinggi dan semakin menurun. Buat kamu yang perfeksionis, view rapi begini pasti bikin kamu bersemangat.

via pegipegi.com   

Karena letaknya yang ada di dataran yang tinggi, suasana Desa Penglipuran di Bali menjadi sejuk. Gak hanya taman dan lingkungannya yang asri, keramah-tamahan penduduknya pun tetap dijaga. Dijamin kamu bakal betah berlama-lama di Desa Penglipuran. 

via rentalmobilbali.com 

via instagram.com/linda_oktavianti 

Desa Penglipuran termasuk desa yang banyak melakukan acara ritual keagamaan, sehingga banyak terdapat acara yang diadakan di desa ini, seperti pemasangan dan penurunan odalan, Galungan dan Kuningan, serta masih banyak lagi. 

via pegipegi.com 

Kalau kamu mau datang ke desa ini, waktu paling pas ketika Desa Penglipuran lagi melakukan acara ritual keagamaan. Momennya pas banget buat melihat secara langsung keunikan dan kekhasan dari Desa Penglipuran di Bali.

via wego.co.id

Tatanan rumah warga yang rapi dipadu dengan suasana damai khas Bali yang tersedia di Desa Penglipuran tentunya bakal bikin kamu ketagihan upload foto di medsos. Kalo patah hati, cus siapin koper dan pesen tiket ke Bali untuk refresh diri kamu di Desa Penglipuran, Bali.

via instagram.com/meilanyyap 

via instagram.com/ivana.amanda 

 

Itu dia 15 Kampung Adat di Indonesia yang patut kamu kunjungi selama kamu libur kerjaan! Perpaduan alam yang eksotis dan budaya yang masih sangat kental bakal bikin feeds Instagram kamu dipenuhi dengan foto estetik. Untuk kamu yang berjiwa backpacker, liburan ke Kampung Adat tentu merupakan alternatif yang tepat untuk melepaskan penat, karena selain biaya hidup yang hemat, tempat-tempat ini bakal ngelatih kamu untuk terus jalan sehat.


editor
Editor Chantiqa Shakira Dewi dan Silvana Jovanka Surbakti
Both are law students in University of Indonesia and quiet person who loves to put things on their minds in words rather than talks.

Rekomendasi Kami

Dapatkan inspirasi jalan-jalan di Indonesia ke e-mail Kamu

Kamu akan mendapatkan ide jalan-jalan di Indonesia dengan berlangganan newsletter kami.