Dieng Culture Festival


Jawa Tengah - Culture - 214 Hits

Pernah ngebayangin gak gimana rasanya nonton jazz di alam terbuka dengan suhu udara yang mencapai 5 derajat celcius? Ternyata, acara jazz macem gitu beneran ada loh. Konser jazz anti mainstream ini dikenal dengan sebutan Jazz di Atas Awan karena digelar di dataran tertinggi kedua di dunia yaitu Dataran Tinggi Dieng. Wogh!

Jazz di Atas Awan sendiri merupakan bagian dari rangkaian acara tahunannya warga Dieng yaitu Dieng Culture Festival. Kalo diliat dari para artis yang manggung, konser jazz ini bener-bener gak menggoda sama sekali buat didatengin. Secara, artis-artis yang manggung itu cuma band-band kecil yang gak seterkenal The Groove atau Barry Likumahua. Ya mereka semacam band-band dari komunitas jazz gitu lah kayak misalnya untuk tahun 2013 ada Teleskeblues, Sekawan & Friends dan Gelas Kaca. Nah, gue yakin lo gak ada yang tau 1 pun kan?

Via flickr.com (Bryan Pizgauer)


Artis-artisnya Jazz di Atas Awan ini emang biasa aja, tapi nggak untuk tempatnya. Lokasinya yang ada di ketinggian 2000 mdpl bikin konser jazz ini entah kenapa jadi terasa menggoda buat ‘dicicipin’. Kebayang dinginnya suasana Dieng malam hari yang dibikin hangat sama petikan-petikan gitar blues aja rasanya udah syahdu banget, apalagi bisa nonton langsung sambil nyeruput kopi panas dan pegangan tangan sama pacar? Uuh, syahdunya pasti ngeresep sampe pori-pori hati! :’> Belom lagi ditambah sama suasana romantis yang hadir dari biasan cahaya yang menyorot pada kabut tebal yang turun menyelimuti candi-candi Arjuna. Pokoknya dijamin bikin hati anget walau suhu udara super dingin.

Jazz di Atas Awan emang keliatan menarik banget, karena konser ini nawarin sebuah pengalaman nonton jazz yang beda: syahdu di tengah kabut nan dingin. Sedikit banyak bikin kita pengen ke sana lah pokoknya. Tapi, sebenernya Jazz di Atas Awan ini bukanlah acara utama dari Dieng Culture Festival. Karena, inti dari Dieng Culture Festival sendiri adalah acara adat untuk menuruti permintaan anak-anak berambut gimbal yang ingin rambut gimbalnya segera dipotong.

Anak-anak gimbal itu sendiri sebenernya adalah fenomena yang menurut gue aneh yang cuma ada di Dataran Tinggi Dieng. Beberapa anak akan dengan sendirinya memiliki rambut yang kruwel-kruwel layaknya anak reggae padahal orang tua mereka gak sama sekali membawa mereka ke komunitas reggae untuk menggimbalkan rambut anaknya. Tumbuh alami gitu lah. Keanehannya pun gak berhenti sampai situ, ternyata rambut-rambut gimbal itu gak bisa sembarang potong, harus nunggu anak-anak gimbal tersebut yang minta untuk dipotong. Kalo enggak, mereka akan sakit-sakitan dan rambut gimbalnya bakalan numbuh lagi. Nah makannya, diadainlah acara Ruwatan Rambut Gimbal yang menjadi acara utama dari Dieng Culture Festival. Untuk memeriahkan festivalnya, kelompok sadar wisata di Dieng pun menambahkan acara-acara lain kayak pelepasan balon udara, kembang api, makan jagung bakar bareng, minum Purwaceng berjamaah dan termasuk Jazz di Atas Awan yang udah dijelasin tadi. Percaya gak percaya, usaha kelompok sadar wisata Dieng ini udah sukses besar menggerakan 30.000 pasang kaki wisatawan yang penasaran untuk dateng ke Dieng ahun 2013 kemarin. Nah, untuk tahun ini apakah elo salah satunya yang akan ke sana?

Via reusadi.com

INFO
Dieng Culture Festival ini gak gratis alias dipungut biaya. Tahun 2013 biayanya sekitar Rp 75.000 dan tahun 2014 entah karena alesan apa tiket dibanderol jadi Rp 175.000. Jumlah tiket pun dibatasi, yaitu sekitar 2000 tiket aja. Huft.


 


#Travel #Alam
editor
Editor alfitrahmat saputro
working in an agency doesn't deter him to keep exploring Indonesia in any free time he had. As a matter of fact, he, who wanted to write a book someday, seems to always be the first person among his friends that has visited any newly-hip beach destination

Rekomendasi Kami

Dapatkan inspirasi jalan-jalan di Indonesia ke e-mail Kamu

Kamu akan mendapatkan ide jalan-jalan di Indonesia dengan berlangganan newsletter kami.