Kawah Ijen, Pemanasan Sebelum ke Kelimutu


Jawa Timur - Sport & Adventure - 240 Hits

Sama-sama terbentuk karena aktivitas gunung api, Kawah Ijen dan Kawah Kelimutu emang keliatan mirip satu sama lain. Kemiripan ini lebih keliatan pada warna air kawah dari masing-masing gunung yaitu punya warna ijo toska. Bedanya, kalo Ijen cuma punya 1 kawah, sedangkan Kelimutu punya 3 kawah dengan warna berbeda dan salah satunya ya yang berwarna ijo toska itu. Makannya, kemiripan warna air kawah ini bikin main ke Kawah Ijen jadi berasa kayak main ke Kelimutu. Yah, itung-itung pemanasan gitu lah buat yang baru akan main ke Kelimutu.

via muhdhito.wordpress.com

 

Sebenernya, main ke Kawah Ijen dibilang sebagai pemanasan sebelum ke Kelimutu itu bener-bener aja asalkan konteks yang diliat adalah kemiripan warna air kawah karena emang Kawah Ijen ini semacam replikanya si Kelimutu. Tapi, akan jadi gak sesuai kalo diliat dari konteks kesulitan medan trekking, karena justru Kelimutu lah yang harusnya dijadiin pemanasan sebelum trekking ke Kawah Ijen. Bukannya lebay ya, tapi percaya deh nanjak ke Kawah Ijen itu susahnya hampir 9,36 kali lipat dari trekking di Kelimutu. Dari mulai lama waktu sampe sudut kemiringan trek yang dilaluin, Kawah Ijen ini emang waaay harder untuk ditaklukin daripada si Kelimutu.

Kalo diliat dari lamanya waktu, nanjak di Kawah Ijen ini bisa makan waktu 2 sampe 2,5 jam trekking nyiksa, di saat Kelimutu cuma butuh waktu 15-20 menit trekking santai. Hal ini bikin elo yang mau nanjak di Kawah Ijen harus rela bangun lebih awal, ya minimal jam 2 dini hari harus udah mulai trekking supaya gak ketinggalan sunrise. Sedangkan kalo elo mau ngejar sunrise di Kelimutu, jam segitu mah elo masih pules-pulesnya tidur karena idealnya di Kelimutu itu memulai trekking sekitar jam 4 subuh. 

 

Lamanya waktu trekking di Kawah Ijen sebenernya lebih disebabin karena medan trekking yang super kejam bin ngehek. Ya bayangin aja, baru-baru mulai trekking aja elo akan langsung disuruh nanjak, tanpa dikasih jalan datar untuk pemanasan otot. Alhasil, bukan cuma otot aja yang kaget karena langsung disuruh kerja keras, tapi juga mental karena udah jiper duluan secara sudut kemiringan medan trekking yang harus dilaluin rata-rata 45 derajat. Selama perjalanan pun jadi gak sempet haha-hihi karena yang ada elo akan sibuk ngatur napas yang naik-turun. Sukur-sukur gak keliyengan dan jatoh pingsan hehe. Dan lagi, hal ini diperparah sama waktu sunrise yang terus ngejar yang jelas jadi beban kita supaya jangan terlalu sering berhenti buat istirahat ngelurusin kaki. Pokoknya nyiksa! :’'''''(

via colouringindonesia.com

Tapi, layaknya sebuah perjalanan, trekking ke Kawah Ijen juga berujung manis kok. Seperti kebanyakan cerita perjalanan, susah getirnya suatu perjalanan pasti akan dibayar sama indahnya pemandangan yang dicari-cari, begitu juga sama trekking di Kawah Ijen ini. Setelah 2,5 jam hampir sekarat nyambungin nafas, pada akhirnya elo akan dapetin balesan setimpal berupa sunrise cakep dari ujung timur Pulau Jawa. Selain itu, seiring naiknya matahari, sambil normalin laju nafas lo juga akan dibikin tenang sama toska-nya warna air kawah yang perlahan nongolin diri dari balik selimut kabut dan gelap, sampai pada akhirnya sosok danau kawah terbesar di dunia itu terlihat seluruhnya. Rasa capekpun langsung gak kerasa karena pasti elo akan sibuk kegirangan dan foto-foto.

 

Ngeliat sosok yang dicari-cari emang pasti bakal langsung bikin lupa sama rasa capek yang dirasain selama trekking penuh perjuangan buat ngeraih puncak Ijen tadi. Tapi, setelah semuanya selesai, elo akan langsung diingetin lagi sama trek 'jahanam' itu. Jangan kira trek ini cuma nyiksa saat nanjak aja, karena ternyata pas turun pun sama gilanya kaya nanjak. Sampe-sampe gue jalan mundur buat ngilangin capeknya kaki. Tapi tenang aja, pemandangan saat turun bakal jadi selingan manis di tengah-tengah beratnya perjuangan hidup kok! :’>

via drinkingtraveller.com

Intinya, ini bukan untuk nakut-nakutin elo yang akan naik Ijen ya. Justru, ini untuk pengingat elo supaya nyiapin mental dan fisik agar nggak terkejut dan lancar jaya sampai di puncaknya. Jadi, siapa aja yang udah pernah ke Ijen dan merasakan hal yang sama? Komen di bawah ya!


editor
Editor Chiquita Marbun
or simply called Tita, currently pursuing higher degree in education simply just to postpone her parents-told-destiny to work in a company. You'll either find her lying under the sun by the calm beach or trying several menus on the authentic restaurant if

Rekomendasi Kami

Dapatkan inspirasi jalan-jalan di Indonesia ke e-mail Kamu

Kamu akan mendapatkan ide jalan-jalan di Indonesia dengan berlangganan newsletter kami.