Sengsara Berujung Nikmat Ala Waerebo


Nusa Tenggara Timur - Culture - 276 Hits

Untuk bisa sampai ke Desa Waerebo, kamu harus jalan kaki selama 4 jam terlebih dulu. Jalan kakinya pun bukan di trek datar, melainkan trek nanjak dengan medan yang bervariasi, dari mulai batu kali, tanah merah hingga aliran air sungai. Udah gitu, trek yang harus kamu laluin juga akan membawa kamu masuk ke dalam hutan, dengan sisi kanan kirinya berupa jurang dan tebing bukit yang rimbun dengan pepohonan. Belum lagi kabut yang suka turun seenaknya yang akan bikin kamu jadi susah ngikutin jejak jalanan. Pokoknya, sama persis dengan definisi kata sengsara!

 

Tapi, entah kenapa justru kesengsaraan itu yang membuat pesona Waerebo makin menggoda. Padahal, selain kaki disiksa oleh trek yang jahanam tadi, pantat kamu udah harus terlebih dahulu disiksa sama perjalanan jauh dari Ruteng ke Denge –desa yang menjadi pos untuk memulai trekking. Empat jam perjalanan dengan menggunaan truk yang disulap jadi angkutan umum cukuplah untuk membuat pantat jadi keram. Ya, selain karena bangku angkutan yang cuma berbentuk sebilah kayu, jalanan-yang-gak-layak-disebut-jalanan juga menjadi alasan kenapa 4 jam perjalanan itu feels like a hell.via instagram.com/alfitsaputro

Buat para gadget freak yang kemana-kemana gak bisa lepas dari handphone, siap-siap aja tambah sengsara dengan kehadiran sinyal yang enol besar. Yah jangankan sinyal sih, listrik aja hanya ada saat malam hari dan itupun berasal dari jenset pribadi warga. Tapi gak tau ya kenapa justru malah ini yang membuat Waerebo terasa spesial. Semacam menjadi tempat yang pas untuk melarikan diri dari kehidupan perkotaan yang maha sumpek dan juga tempat dimana kita bisa merasa gak bosan walau handphone gak di tangan. Kapan lagi coba kita bisa membicarakan kesederhanaan hidup ala masyarakat Waerebo sambil memandangi taburan bintang yang kasat mata dengan ditemani segelas kopi Flores pengusir dingin?

 

Semua halangan pembawa kesengsaraan itu emang gak ada seujung kuku dari nikmat yang akan kamu dapat saat sudah sampai atas. Memasuki pintu gerbang desa yang ditandai dengan kehadiran Rumah Kasih Ibu, kamu akan disambut dengan pemandangan Desa Waerebo dari kejauhan. Tapi jangan norak dulu, Rumah kasih Ibu bukanlah spot untuk memotret Waerebo dari kejauhan. Fungsi sebenarnya adalah sebagai penanda bagi warga Waerebo bahwa ada tamu yang akan berkunjung ke desa mereka. Makannya, setiap melewati pintu gerbang desa ini, kamu harus membunyikan kentongan dan otomatis warga Waerebo akan menyiapkan kopi Flores untuk penyambutan.

via instagram.com/alfitsaputro

Gak jauh dari Rumah Kasih Ibu, kamu akan nemuin perpustakaan yang terletak pada titik tertinggi di kawasan Desa Waerebo. Nah, dari sinilah foto-foto yang sering mejeng di Internet diambil. Tapi tahan dulu, jangan kelewat nafsu jepret sana-sini karena menurut aturan adat, kamu harus masuk ke rumah utama terlebih dulu sebagai izin kepada warga serta leluhur tentang tujuan kamu datang kesana. Baru setelah itu kamu akan di bawa ke Rumah Tamu untuk disuguhi kopi Flores dan kemudian punya waktu bebas setelah basa-basi sejenak khas orang Indonesia.

 

Secara adat, jumlah bangunan rumah di Waerebo dijaga dan tidak pernah lebih dari 7. Ini memang sesuai dengan aturan adat dari awal nenek moyang menetap di sini dulu. Selain itu, bentuknya yang kerucut merupakan cerminan bentuk sawah laba-laba yang menjadi khasnya orang Manggarai Barat. Katanya, kalo rumah kerucut ditekan dari ujungnya hingga ke tanah akan menunjukkan bentuk sarang laba-laba tersebut. Tapi sepertinya, tujuan lain rumah di sana dibangun dengan bentuk kerucut adalah alasan estetika. Kalau dilihat dari kejauhan, kumpulan rumah kerucut yang membentuk formasi lingkaran akan terlihat seperti barisan pegunungan yang dikelilingi bukit-bukit hijau yang berkabut. Ngeliatnya dijamin akan langsung nge-recharge energi kamu yang sempat digerus oleh kesengsaraan saat melakukan perjalanan tadi. Gimana, kira-kira berani ngerasain nikmat di ujung kesengsaraan ini?

via instagram.com/alfitsaputro

 

CARA KE WAEREBO

Transportasi Umum

Kalo mau ngeteng ke Waerebo, kamu bisa pakai transportasi Otto Kol yang melayani trayek Ruteng-Denge. Dari Ruteng, transportasi ke Waerebo ini selalu jalan antara pukul 10 dan 11, pokoknya paling siang akan jalan jam 11 itu. Buat yang berasal dari Labuan Bajo, bisa tuh turun di pertigaan Pela dan nunggu Otto Kol yang memang pasti akan lewat sini. Jumlah angkutan ini ada 3 armada, walau begitu kondisinya pasti selalu penuh, baik dengan orang ataupun barang.

 

Kekuatan mental dan fisik kamu akan diujui karena lama perjalanan bisa sampai 4 jam dengan kondisi jalan yang hanya muat 1 kendaraan roda empat dan memiliki tepi berupa jurang.  Dan diperparah dengan kondisi angkutan yang sebenarnya adalah truk yang dimodif menjadi angkutan umum. Gak ada busa pengempuk apalagi mengharap space kaki yang besar. Yang ada hanyalah musik khas Indonesia Timur yang justru malah bikin kuping sakit, secara 4 jam dipaksa dengerin suara yang super kenceng itu. Dan lucunya, Otto Kol ini gak punya pintu, jadi kalo mau naik ya harus manjat. Gak usah jaim, semua orang pasti begitu kalo mau naik, dari yang adek-adek bayi sampai nenek tua pasti manjat, kok. Untuk biaya, ongkos sekali jalan dari Ruteng sampai Denge Rp 20.000 (2014). Sedangkan untuk jadwal keberangkatan Otto Kol dari Denge ke Ruteng adalah jam 3 pagi! Iya, jam 3 pagi dan kalo kamu ketinggalan berarti kamu harus nginep lagi!

 

Ojek

Kalo males atau terpaksa ketinggalan Otto Kol, kamu bisa pilih naik ojek untuk ke Waerebo. Bisa mulai dari Ruteng atau pertigaan Pela. Harga yang ditawarkan bervariasi, normalnya sih Rp 200.000 sekali jalan (2014). Tapi, kalo lagi beruntung, kamu bisa tuh dapat harga Rp 150.000 (2014) PP dari Ruteng dan bahkan harga tersebut sudah termasuk kesediaan tukang ojek menjadi guide sampai atas!

 

Sewa Mobil

Yah, kalo kamu punya uang dan ogah bersusah payah, kamu bisa pakai jasa sewa mobil ke Waerebo. Ada banyak jasa sewa mobil sampai ke Waerebo baik dari Labuan Bajo maupun Ruteng. Harga sewa mobil ke Waerebo bervariasi, normalnya Rp 700.00 (2014) perhari sudah termasuk bensin dan supir.

 

Nah, sampai di Denge, udah gak ada lagi angkutan umum yang bisa bawa kamu sampai ke Waerebo. Mau gak mau, di mulai dari desa terakhir ini kamu harus trekking selama kurang lebih 4 jam.

 

PENGINAPAN DI WAEREBO

Kalo naik angkutan umum, waktu tiba kamu di Desa Denge sekitar pukul 3 sore dan itu sudah terlalu sore untuk langsung melanjutkan trekking ke Waerebo. Biasanya, wisatawan akan nginap di homestay milik Pak Blasius yang sekaligus menjadi pos awal trekking dan barulah keesokan harinya melakukan trekking ke Waerebo. Harga menginap Rp 200.000/orang/hari sudah termasuk dengan makan 3 kali. Kalau kamu datang berdua, harga perorang nya jadi Rp 175.000/hari (2014). Alternatif penginapan yang lebih bagus ada di Desa Dintor, 10 menit berkendara dari Denge. Harga yang ditawarkan sama yaitu Rp 200.000, hanya saja gak akan turun walaupun kamu datang berdua (2014).

 

Di Waerebo-nya, kalo kamu merasa gak sanggup untuk langsung turun lagi hari itu juga, kamu bisa memilih untuk menginap di sini. Biaya menginap di Waerebo Rp 250.000 sudah termasuk 3 kali makan dan kopi kapan saja. Kalo gak mau nginep, kamu tetap harus bayar biaya Rp 100.000 dan akan mendapatkan satu kali makan siang.

 

TIPS

Sebaiknya gunakan jasa guide untuk trekking, selain alasan keamanan, itung-itung bagi-bagi rezeki sama orang lokal. Untuk seorang guide, biaya sewa jasanya Rp 150.000 (2014) terserah kamu mau nginep atau langsung pulang. Kamu pun gak perlu takut disuruh bayarin uang masuk untuk mereka karena guide gak dihitung pengunjung.

 

Nah, tapi kalo lagi bokek, ya sok atuh trekking sendiri. Jalur trekking terbilang cukup aman dan mudah karena sudah ada path-nya, tinggal diikuti saja. Jalur pun sering dilalui warga Waerebo yang akan atau habis dari Desa Denge atau Dintor. Jadi gak perlu khawatir.

 

BUDGET KE WAEREBO

Angkutan Umum

Otto Kol Ruteng-Denge PP Rp 40.000

Nginep Semalem di homestay Pak Blasius Rp 175.000

Uang sukarela untuk kas Desa Waerebo Rp 20.000

Uang wajib untuk makan siang Rp 100.000

Nginep semalam lagi di homestay Pak Blasius Rp 175.000

Total Rp 510.000

 

*Kalo kamu mau nginep di Waerebo-nya, Spent Total tinggal ditambah Rp 150.000 lagi.

 

Ojek

Ojek PP Ruteng-Denge Rp 400.000

Nginep di Pak Blasius Rp 175.000

Bayar iuran sukarela Rp 20.000

Bayar iuran wajib makan siang 100.000

Total Rp 695.000

 

*Kalo mau nginep di Waerebo-nya, spent total tinggal ditambah 150.000 lagi. Kalo kamu berangkat pagi-pagi sekali dari Ruteng, kamu akan sampe Denge pagi hari dan bisa langsung naik ke atas tanpa menginap di Pak Blasius. Ini akan menghemat Rp 175.000.

 

Sewa Mobil

Biaya Sewa mobil hari 2 hari Rp 1.400.000/2= Rp 700.000 (ceritanya kan pergi berdua bareng pacar)

 

Nginep di Pak Blasius Rp 175.000

Bayar iuran sukarela Rp 20.000

Bayar iuran wajib makan siang 100.000

Total Rp 995.000

 

*Kalo mau nginep di Waerebo-nya, spent total tinggal ditambah 150.000 lagi. Kalo kamu berangkat pagi-pagi sekali dari Ruteng atau Labuan Bajo, kamu akan sampe Denge pagi hari dan bisa langsung naik ke atas tanpa menginap di Pak Blasius. Ini akan menghemat Rp 175.000. Dan juga, akan menghemat biaya sewa mobil sebesar Rp 700.000 karena hanya akan menyewa 1 hari.


editor
Editor Chiquita Marbun
or simply called Tita, currently pursuing higher degree in education simply just to postpone her parents-told-destiny to work in a company. You'll either find her lying under the sun by the calm beach or trying several menus on the authentic restaurant if

Rekomendasi Kami

Dapatkan inspirasi jalan-jalan di Indonesia ke e-mail Kamu

Kamu akan mendapatkan ide jalan-jalan di Indonesia dengan berlangganan newsletter kami.